Kamis, 02 Agustus 2012

PERGAULAN PENDIDIKAN DI SMPN 4 PURWAKARTA


BAGIAN I

LAPORAN PENGAMATAN
PERGAULAN PENDIDIKAN DI SMPN 4 PURWAKARTA

A.  Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, diungkapkan sebagai berikut:”Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa mendatang. Menurut Undang-Undang   No 20 tahun 2003:Pendidikan adalah usaha sadar untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pengertian pendidikan menurut Dictionary of Education : Proses seseorang untuk untuk mengembangkan kemampuan, sikap, dan tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat mereka hidup. Proses sosial yang terjadi pada orang dan dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol, sehingga mereka dapat memperoleh perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu secara optimal. Dengan kata lain garapan pendidkan akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan tingkah laku yang sifatnya permanen (tetap).
B.       Tujuan Pengamatan
Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk:
·         Mengetahui phenomena pergaulan pendidikan di SMPN 4 Purwakarta
·         Mengetahui bagaimana penerapan pergaulan di SMPNegeri 4 Purwakarta
·         Mengetahui kendala-kendala dalam penegakkan pergaulan yang baik
C.       Manfaat pengamatan
Adapun manfaat pengamatan adalah untuk:
  1. Bagi warga SMP Negeri 4 Purwakarta
·         Mengetahui phenomena pergaulan di SMPN4 Purwakarta
·         Perbaikan atau koreksi diri atas pergaulan di SMPN 4 Purwakarta
·         Penerapan nilai karakter yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah tersebut.
·         Terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat dan dinamis
  1. Pihak lain
·         Sebagai acuan penerapan pergaulan pendidikan yang sehat
·         Sebagai tolak ukur sekolah yang sehat
·         Sebagai  teladan dan cermin pendidan yang berbasis nilai karakter

BAGIAN II
HASIL PENGAMATAN
PERGAULAN PENDIDIKAN DI SMPN 4 PURWAKARTA


A.      Pengertian Pergaulan Pendidikan
Pergaulan adalah kontak langsung antara satu individu dengan individu lain atau antara satu kelompok dengan kelompok lain. Sehingga termungkinkan untuk dibentuknya kesepahaman.
Pergaulan Pendidikan, dimana kontak langsung antara pendidik dan peserta didik dapat menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif, dimana seorang tenaga pendidik akan lebih mudah menilai dan bisa lebih terbuka dalam mengajarkan. Sehingga hubungan ini akan terus berlanjut dan menciptakan suatu kondisi yang akan terus mengikat dalam konteks norma. Pergaulan pendidikan bersifat memberikan pengaruh dan pengaruh itu diberikan dengan landasan tujuan serta dalam keadaan sadar.
Setelah diamati, nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan     rendahnya mutu   menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.

B.       Penomena Pergaulan di SMPN 4 Purwakarta
Visi dan misi  SMP Negeri 4 adalah unggul dalam prestasi peduli lingkungan, bermartabat dan berbudi pekerti luhur….dalam pencerminan visi dan misinya , maka tujuan pendidikan di SMPN 4 Purwakarta mengarah pada pencapaian atau peningkatan kualitas nilai etika antar keluarga pendidikan di lingkungan SMPN 4 Purwakarta. 
Pergaulan atau interaksi antara anggota keluarga sekolah menjadi perhatian utama. Dalam penerapan pergaulan atau interaksi tersebut di laksanakan secara menyeluruh dari mulai penjaga sampai kepala sekolah. Dituntut untuk melaksanakan hubungan yang harmonis dalam setiap kesempatan pergaulan.
Kenyataannya dalam pergaulan yang terdapat di SMPN 4 Purwakarta masih tidak jelas kemana dan apa yang dituju dari wujud visi dan misi yang terjadi. gelombang globslisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan Negara lain. Bebas dalam mengaktualisasikan hasil globalisasi terhadap kehidupannya seta bebas mengakses dan mencoba kehidupan sesuai dengan informasi yang diterimanya melalui media internet atau media masa lainnya.
Terjadinya rasa hormat atau respect yang harus di lakukan oleh murid kepada guru, murid terhadap murid lainya atau terhadap lingkungan lainnya. Kemerosotan mutu pendidikan terjadi akibat kurangnya motivasi belajar, acuh tak acuh terhadap kewajiban belajar dan terjadinya kemerosotan dalam tata krama pergaulan.
Berdasarkan phenomena tersebut diatas maka pengamat yang sekaligus sebagai pengajar di SMPN 4 Purwakarta berusaha untuk senantiasa meningkatkan pelayanan minimal terhadap kebutuhan peserta didik, berusaha untuk memberikan proses pembelajaran yang lebih baik dan teladan dalam bersikap dengan harapan dapat memperkecil pengaruh globalisasi pada gaya hidup dan  pergaulan peserta didik di  SMP negeri 4 Purwakarta.
C.  Hasil Pengamatan
Dari hasil pengamatan selama 5 hari kerja dari mulai hasi senin sampai dengan hari jumat tanggal  4 – 8 Juni 2012 diperoleh hasil pengamatan pergaulan atau interaksi sebagai berikut:
1.      Antar peserta didik
Dari hasil pengamatan diperoleh cara pergaulan antar peserta didik  (tidak dilihat perjenjang) pagi hari ada salam dan tegur sapa ala anak muda yaitu antara lain dengan ucapan hey..lalu asik berceloteh tentang kegiatan-kegiatan mereka sebelum pagi ini. Pada hari senin disebukkan dengan persiapan kelengkapan pakaian dan persiapan upacara bendera, nuansa akrab dengan bahasa yang kurang nyaman terdengar berlalu pada setiap istirahat.
Pada pelaksanaan shalat duha bersama sebagian kecil peserta didik khususnya yang laki-laki masih enggan untuk melakukan shalat, penceramah kurang diperhatikan (asik berdiskusi sendiri ) hal itu dikarenakan lingkungan yang terpencar sehingga sulitnya pengkondisian peserta didik.
Pelaksanaan olahraga bersama dilakukan siswa dengan berjalan kaki dari sekolah ke alun-alun atau sekitar 3 kilo meter dilakukan dengan kompak dan penuh canda, di tempat ( situ buleud) bupati sudah menunggu dengan salam dan senyum hangat seorang pemimpin yang dengan sabar melayani slam dan jabat tangan anak-anak SMPN 4 Purwakarta.
Kalau diperhatikan dari situasi [ergaulan tersebut sudah cukup memberikan pendidikan dan pembiasaan untuk mencapai tujuan pendidikan nasioanal, khusunya dalam penanaman budi pekerti, namun lingkungan diluar sekolah dan di luar keluarga turut mempengaruhi pergaulan pendidikan yang rawan akan pengaruh negative.
2.      Antara guru dengan peserta didik
Hubungan antara peserta didik dan guru, pembiasaan bertemu dengan mencium tangan guru sudah menjadi pemandangan sehari-hari, ucapan salam sering terdengan dari guru menyapa peserta didiknya dan penerapan disiplin berpenampilan senantiasa menjadi pemandangan setiap hari.

3.      Antar guru
Hubungan antar guru terjalin sangat kekeluargaan , diawli dengan ucapan salam dan saling menyapa dengan pertanyaan kabar diri dan keluarga masing-masing dengan jabat tangan erat menandakan hubungan antar individu yang menunjukan kualitas diri yang bermutu telah terjalin dan layak dijadikan teladan bagi peserta didik.
Kematangan berpikir para guru menggambarkan pribadi-pribadi mantap dan dewasa dalam meberikan pembelajaran etika dan budi pekerti bagi pencapain tujuan pendidikan. Sesekali teguran dilontarkan guru kepada peserta didiknya yang menyalahi aturan, nasihat –nasihat tak henti di sampaikan baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Cara pergaulan dipandang sehat dimana kehangatan kekeluargaan menjadi cirri pergaulan atar guru di SMPN 4 Purwakarta, panggilan teteh, euceu, akang, ayi, aceuk dll dilontarkan dari satu guru ke guru yang lain sebagai wujud atau pertanda saling menghargai satu sama lain. Pergaulan pada saat jam istirahat selain mendiskusikan kesulitan penyajian pembelajaran (metode atu strategi mengajar) juga mendiskusikan hal-hal yang menuju penciptaan tujuan pendidikan di sekolah dan mewujudkan visi dan misi SMPN 4 Purwakarta.
4.      Antara warga sekolah
Pergaulan antar warga sekolah dari mulai penjaga, staf tata usaha, peserta didik, pendidik dan kepala sekoalh terjalin dengan baik, harmonis:setiap unsure  paham akan hak dan kewajiban masing-masing. Sehingga pergaulan terasa indah dan nyaman di perhatikan dan dirasakan.

Minijmen kepala sekolah memegang kendali dalam pelaksanaan pergaulan antar warga sekolah, ada beberapa hal yang sempat di amati selama satu minggu tersebut yaitu: arisan keluarga yang dilakukan di rumah masing-masing guru ( sesuai jadwal) bertujuan agar mengenal kehidupan keluarga masing-masing. Pengajian dan sholat duha bersama pada hari selasa, olahraga bersama pada hari jum’at pagi.. hal itu mencerminkan contoh tauladan dan pembiasaan yang baik.

BAGIAN III
KESIMPULAN DAN SARAN
1.    Kesimpulan
Hasil pengamatan pada salah satu phenomena yang terjadi dalam pendidikan khususnya pergaulan pendidikan di SMPN 4 Purwakarta dapat disimpulkan sebagi berikut:
a.      Tujuan pendidikan nasional (SNP No 20 tahun 2003:) yang memiki titik berat pada kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia…. Melalui tauladan dan pembiasaan di SMPN4 Purwakarta dapat dicapai
b.      Tujuan pendidikan nasioanal yang diterjemahkan dalam bentuk tujuan pendidikan sekolah, visi dan misi SMP Negeri 4 Purwakarta dapat tercapai melalui pergaulan yang sehat yang terjadi antar warga sekolah secara keseluruhan
c.       Tujuan pendidikan khusunya pada pergaulan pendidikan telah berhasil di laksanakan, diterapkan walaupun masih  banyak factor panghambat namun dengan pembiasaan dan pemberian teladan dari  guru maka tujuan pendidikan dapat teratasi atau tercapai.
2.    Saran 
a.         Untuk menanggulangi pengaruh pergaulan di luar pendidikan yang sangat mudah diserap oleh siswa SMP yang notabene masih labil, hendaknya pembiasaan penerapan akhlaq dan jiwa Pancasila senantiasa di laksanakan secara paksa oleh peserta didik agar terjadi pembiasaan yang baik.
b.        Pembiasaan berolah raga bersama jangan dikotori dengan penggunaan bahasa yang buruk harus dihindari dan perlu pemantauan guru yang relative extra ketat agar tidak terjadi pembiasaan berbahasa yang tidak pantas diucapkan oleh pelajar.

“Peer coaching” Salah Satu Model Pembinaan Guru


Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No 74 tahun 2008 tentang guru  dimana tugas dan fungsi seorang guru yang memiliki kompetensi pedagogik, professional, social dan kepribadian   memiliki tugas yang  utama yaitu; merencanakan, mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. .sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan di negara Indonesia tercinta ini.
Kemampuan profesianal guru di uji dengan berbagai hal, salah satunya yaitu dengan uji kompetensi bagi calon guru professional yang dilaksanakan oleh kemendikbud beberapa waktu yang telah lalu. menunjukan hasil yang tidak memuaskan. Sehingga terjadi berbagai kehawatiran dari pemerintah, ditambah dengan adanya penurunan kualitas pendidikan secara kumulatif ditingkat nasional dan internasional tentu menjadi bahan pemikiran bagi pemerintah, dengan   berupaya mencari alternative model pembinaan terhadap Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) khususnya guru  untuk melengkapi model-model pembinaan yang telah ada yang dipandang mampu meningkatkan kualitas keprofesian guru.  . Salah satu model pembinaan profesi PTK khususnya guru adalah dengan peer coaching,  lalu timbul pertanyaan apa, kenapa, dan bagaimana peer coaching?.
Peer coaching adalah suatu Metode pengembangan profesional untuk meningkatkan kemitraan  dan menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapi guru,  . Dalam peer coaching, para guru berbagi pengalaman mereka, saling memberikan masukan, dorongan, bersama-sama memperbaiki keterampilan mengajar, ataupun memecahkan masalah dalam kelas. Kinlaw (dalam Rush, Shelden, & Hanft, 2003),
Tujuan yang di harapkan dari  Peer coaching adalah :
1). Terjadinya kolaborasi antar guru,
2). Berbagi idea,
3)  Timbulnya rasa kebersamaan,
4). Terjadinya dialog professional dan
5)  Meningkatkan kompetensi guru
 Sebagai guru dan individu yang senantiasa berkeinginan untuk meningkatkan kualitas profesinya seorang guru harus menyadari bahwa diri kita masih memiliki kekurangan dalam pengetahuan, pemahaman dan praktek keprofesian kita, kita juga harus menyadari bahwa rekan –rekan kita memiliki kelebihan dari kita masalahnya adalah maukah kita mendengarkan mereka dengan penuh keikhlasan? Lalu kita juga harus sadar pada kelebihan pengetahuan, pemahaman dan praktek keprofesian kita masalahnya adalah maukah kita bebagi kelebihan kita dengan mereka secara ikhlas dan sadarkah kita bahwa kita memiliki kelebihan pengetahuan, pemahaman praktek keprofesian kita. Lalu..maukah kita berbagi untuk mereka yang berkurang dengan ikhlas?serta maukah kita maju bersama, bekerjasama dengan teman  sejawat? .
Langkah pelaksanaan peer coaching :
Ilustrasi:
Ibu Maya merasa kurang mampu untuk membuat starategi pembelajaran agar  membantu ia dan peserta didiknya dalam memahami materi dalam pembelajaran agama di kelasnya, dengan rasa rendah diri ibu maya menghadap pada ibu Yayah untuk meminta pendapat saran dan masukan bagaimana cara menyajikan mateti pembelajaran tersebut. lalu merekapun mendiskusikan dengan seksama akan apa-apa yang menjadi kekurangan ibu Maya dalam penyajian proses pembelajaran, mereka menemukan satu alternative teknik mengajar dan pengelolaan kelasnya untuk dipraktekan di kelas ibu Maya dengan pendampingan oleh ibu yayah ,akhirnya ibu Maya mempraktekan hasil diskusinya dan merasa puas terlebih ibu maya mendapat ilmu pengetahuan tentang pengelolaan kelas yang efektif serta teknik mengajar yang baru dan tampaknya peserta didik ibu maya cepat memahami mataeri yang diajarkan ..
Dari ilustrasi tersebut kita dapat ditarik kesimpulan secara sederhana bahwa peeroaching merupakan pembinaan guru yang dilakukan seorang guru yang sudah memiliki kesadaran akan kekurangan dan kelebihan seseorang dalam memberikan pelayaan terhadap peserta didik.
Mekanisme pelaksanaan peercoaching tersebut diatas dapat digolongkan kedalam:
1.      Goal/Tujuan (menyusun tujuan atau target yang sesuai / diharapkan) contoh: membuat starategi pembelajaran
2.      Reality (identifikasi kelemahan  dan sumber-sumber penyebab terjadinya masalah) contoh: mendiskusikan dengan seksama akan apa-apa yang menjadi kekurangan ibu Maya dalam penyajian proses pembelajaran
3.      Option (memilih tindakan yang sesuai dengan tujuan) menemukan satu alternative teknik mengajar dan pengelolaan kelasnya untuk dipraktekan di kelas ibu Maya
4.      What’s next(menentukan tindakan-tindakan yang akan dilakukan untuk meraih tujuan) mempraktekan hasil diskusinya
5.      Monitoriung (mengecek atau mengamati tindakan-tindakan yang dilakukan dan kemajuan yang telah dicapai)  pendampingan oleh ibu yayah
6.      Evaluating (menilai ketercapaian tujuan)  peserta didik ibu maya cepat memahami mataeri yang diajarkan .

Rabu, 14 Desember 2011

KODE ETIK GURU DALAM KOMPETENSI KEPRIBADIANNYA


Pengertian Kode etik adalah norma, nilai dasar serta aturan-aturan yang secara jelas mengatur apa yang benar dan apa yang salah dan diterima oleh profesi  tersebut. Kode etik terlaksana secara naluri individu tersebut  yang tercermin dalam sikap, tingkah laku, atau secara singkat  tercermin dalam  kepribadian. Dilain pihak pengertian Kepribadian adalah sikap tingkah laku baik berupa pikiran, perasan, sikap, maupun perbuatan. Jadi kode etik guru adalah norma, nilai-nilai dasar yang diterima oleh seluruh guru-guru yang tercermin melalui sikap tingkah laku baik berupa pikiran, perasaan sikap dan perbuatannya untuk menempatkan dirinya lebih terhormat, lebih bermartabat serta tentu saja dilindungi oleh undang-undang .
Kode etik bukan merupakan paksaan namun lebih pada factor ketaatan dari seorang individu (guru)      terhadap norma, aturan dan ketentuan yang berlaku, sehingga apabila terjadi pelanggaran kode etik maka rasa penyesalan yang akan pertama kali muncul dan individu tersebut  akan menjadi hancur profesinya dan  jatuhlah martabatnya.
Seorang guru yang professional adalah guru  tersebut harus memiliki 4 kompetensi : pedagogik, kepribadian, social dan professional.   kompetensi  kepribadian dan kompetensi social adalah kompetensi yang erat kaitannya dengan kode etik guru yang harus benar-benar   dikaji dan implementasikan dalam kehidupannya . Untuk melaksanakannya   guru harus memiliki kesadaran penuh bahwa:
  1. Guru dalam melaksanakan tugas profesinya harus dengan disiplin  dan rasa pengabdian yang tinggi .
  2.  Guru harus berbakti membimbing anak bangsa untuk membangun generasi penerus bangsa yang lebih bermartabat.
  3. Guru harus menghormati hak dan memenuhi kebutuhan anak didik dalam belajar
  4. Guru dalam melaksanakan tugasnya harus memahami latar belakang, kepribadian,  kebutuhan anak didik demi kepentingan pengembangan kurikulum dan kepentingan pendidikan pada umumnya
  5. Guru harus senantiasa menciptakan suasanya yang aman, nyaman baik di dalam maupun di luar lingkungan profesinya baik anak didiknya maupun rekan sesama profesinya..
  6.  Guru harus senantiasa menciptakan dan menjaga komunikasi yang efektif baik dengan anak didik, sesama guru, atasan dan masyarakat.
  7.  Guru senantiasa memperluas pengetahuannya melalui berbagai pengembangan profesinya baik yang dilakukan secara individu maupun perkelompok
Kode etik guru berada dalam diri guru itu sendiri dengan didasari pada kesadaran akan komitmen profesi yang dia ambil. Dan semoga dengan berdasarkan aturan norma, agama, social, budaya, pancasila dan perundang-undangan yang berlaku, setiap guru Indonesa mampu menunjukan etika guru yang bermartabat, terhormat, mulia dan dapat dipercaya.Sehingga tidak ada lagi guru yang mengaku guru namun kepribadiannya bukan seorang guru. Wajib kita renungkan.

Rabu, 23 November 2011

Kepribadian guru


Tanggal 25 November yang akan datang merupakan Hari Guru Indonesia (HGI) yang bertepatan dengan HARI Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI ), Organisasi profesi tersebut sudah banyak memperjuangkan nasib guru di Indonesia, berkat perjuangannya itu lah maka lahirlah Undang-Undang Guru dan Dosen No 14 tahun 2005. Serta berhasil pula meningkatkan kesejahteraan berupa   tunjangan profesi (sertifikasi Guru) dan perlu diacungi jempol bahwa dengan perjuangannya tersebut kesejahteraan Guru Indonesia sudah semakin meningkat.
Meningkatnya kesejahteraan guru belum sepenuhnya dibarengi dengan kesadaran guru untuk terus meningkatkan pelayanan pada peserta didiknya dan meningkatkan kualitas diri melalui berbagai kegiatan pengembangan dirinya. Masih banyak guru yang tetap asik dengan dirinya sendiri, dimana proses pembelajaran dan atau pemberian pelayanan kepada peserta didiknya  hanya segitu-gitu saja tanpa berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak bangsa, atau setidaknya  ikut   melongok atau sekedar melirik kepada proses pembelajaran dan pelayanan yang diberikan oleh rekan rekannya kepada peserta didik yang tentu saja untukk  mengambil hal –hal yang baik,  selanjutnya dipraktekan dalam proses pembelajarannya. Kalau hal itu sudah sanggup dilakukan oleh seorang guru maka tentu saja lambat laun mutu pendidikan baik guru maupun peserta didiknya akan terus meningkat.
Keinginan untuk terus meningkatkan kualitas diri tidak akan muncul manakala seorang guru tidak memiliki keinginan dengan penuh kesadaran mengubah dirinya sendiri (selfreform) dan membuka pikirannya atau cara pandangnya (mind set) terhadap sesuatu serta   berani menerima perubahan apabila diperlukan, hal itu dapat terjadi pada dirinya, orang lain atau bahkan pada  apapun juga.
 Salah satu bentuk kepribadian guru yang diharapkan oleh Pemerintah dalam permendikanas No 16 tahun 2007, adalah yang mimiliki kepribadian yang baik, agamis, pancasilais serta menawarkan. Kepribadian akan turut menetukan apakah  guru tersebut sudah layak   sebagai pendidik yang baik atau sebaliknya, atau bahkan  menjadi perusak anak didiknya. Sikap dan citra negative seorang guru dan berbagai penyebabnya seharusnya dihindari jauh-jauh agar tidak mencemarkan nama baik guru, sehingga guru menjadi semakin wibawa, dan terasa sangat dibutuhkan anak didik dan masyarakat luas.
Kepribadian seorang guru merupakan hal yang sangat mudah untuk ditiru atau sebagai model yang paling jitu untuk turut membangaun karakter atau kepribadian peserta didik, sangatlah ironis sekali, Pemerintah saat ini sedang gencar menggunakan kata karakter pada setiap pembelajaran yang berlangsung, namun sebenarnya karakter bangsa Indonesia yang konon sedang krisis adalah salah satu andil dari guru-guru, sebab apabila guru memiliki kepribadian Indonesia  yang Pancasilais dan agamais serta menanamkan butur-butir Pancasila dalam setiap geraknya maka otomatis peserta didik akan terus meniru dan meneladani sikap (kepribadian) guru tersebut, maka karakter bangsa Indonesia tidak akan hilang tergerus oleh jaman yang semakin tak jelas.
Selamat hari  Guru Indonesia  ke 66 dan  selamat hari PGRI  yang ke 66.   Semoga guru terus melaksanakan  TUT WURIHANDAYANI pada setiap event.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Teacher Career Development Mapping


Teacher is a professional job, because teacher has important complex duty beginning from making some planning, giving students practicing, teaching and also evaluating. To be a professional teacher based on the Permendiknas no 16 2007 there are 4 competences, they are: pedagogic, social, individual and professional competence. The same thing that should   teachers have are enthusiasm for teaching, integrated professional magnetism and solid ability as experts of teaching.
1.      Enthusiasm for teaching it means that the teacher has sense of responsibility and pride as a teacher, love to their pupils and students, desire to keep learning and improving themselves.
2.      Integrated personal magnetism means that teacher has a well rounded character and sociality and adjusting human relationship and communicative competence.
3.      Socialibylity as experts of teaching means that the teacher has teaching ability, understanding students and give guardian to them, and management of the class.
In give some appreciate or award to the teacher performance and in order to give some spirited to them. Government need mapping of the career for the teacher. Right now there are career mapping  beginning from II a (young regulator) to IV e ( the main builder) level and with the permanent salary. It regulation due to all teacher but it is not enough especially for the teacher who has special and extra ordinary performance. Unfortunately, right now in developing teacher career is quite hard especially for the extra ordinary teacher. Government should Giving award to the extra ordinary teacher such as giving awards, the automatic promotion, occupying position, and other allowance.
  1. Giving award (i.e. certificate, cup, special prize/ satya lencana or something)   right now  the current government does not attempt to do it.
  2. Automatic promotion (i.e. from the lower to the higher level). But unfortunately the provision of the automatic promotion is still not considered by the government or by policy maker
  3. Occupying position: promotion for the teachers who have outstanding achievements was the award of government, but this kind of promotion still can not implemented because there factor usually for political office, the bureaucracy is quite long. The promotion can only touch a who have access to the bureaucracy that is good enough and have sufficient politic wok.
In addition. As a professional teacher then we must continue to maintained performance and optimum student’s services and increase knowledge.
The government should give more attention to the teachers who have brilliant performance and achievement such as; giving awards, automatic promotion, occupying position and any others that all due to career development for the teacher.

Selasa, 21 Juni 2011

Makna Hitam Putih dalam Pendidikan di masa kini


Saya tidak   begitu suka warna putih karena susah untuk merawatnya, begitupun dengan warna hitam  karena susah juga merawatnya, tapi saat saya teliti ternyata pasti ada warna hitam dan putih yang sering di padu padankan dalam keseharian saya. Setelah saya sadari ternyata kedua warna itu adalah warna netral dan warna yang simple dan bisa masuk ke dalam warna apa pun juga sehingga menjadi padu padan yang begitu indah.

Arti warna putih sering disimbolkan pada warna yang suci, bersih, rapi, teratur, hal-hal yang bersifat positif melekat pada arti warna putih.  Putih adalah perdamaian, putih menjadi inspirasi serta harapan masa depan, sifat orang yang menyukai warna putih bisa diartikan  orang yang terlahir sempurna, banyak yang mengagumi karena sifatnya anggun, idealis, bermoral tinggi, tidak pernah angkuh, senang menolong pada orang yang membutuhkannya.

Arti warna hitam sering disimbolkan pada hal-hal yang kelam,suram, gelap, hal-hal yang bersifat negative melekat pada warna tersebut. Hitam juga disimbolkan pada kekuatan, kekuasaan, kejayaan, garang, macho, Sifat orang yang menyukai warna hitam ini adalah digolongkan pada orang yang lincah pada hal –hal tertentu saja, kalau ada pada situasi yang tidak dia sukai maka dia akan murung, namun punya penampilan yang rapi, tampil menarik dan pasti banyak yang jatuh cinta kepadanya.

Dunia pendidikan sekarang ini bak dua sisi warna yang berbeda,; hitam dan putih, hitam maksudnya: ada yang terus memaknai bahwa pendidikan sekarang ini hampir kehilangan kepercayaan diri dan hampir kehilangan makna. Mereka membuktikan dengan karakter siswa yang sudah banyak terpengaruh budaya bebas sehingga melupakan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, kemampuan guru yang sering diragukan oleh masyarakat ( konsumen pendidikan) dibuktikan dengan nilai kejujuran hasil ujian nasional yang terjadi di Surabaya ahir-ahir ini.

Ada pula yang terus memaknai putihnya pendidikan dari hasil belajar.  Perubahan hasil belajar itu terjadi tidak bisa signifikan atau langsung terjadi sesaat setelah belajar,  dibuktikan dengan perolehan karakter siswa dari yang buruk menuju karakter yang mengagumkan yang sesuai dengan religi dan norma social dan budaya memerlukan waktu yang agak lama. Kemampuan  kompetensi guru yang begitu baik, dimana guru mampu menjadi agen perubahan dimasa  mendatang, dll.

Sebagai orang yang hidup di dunia pendidkan, kita mencoba  merenungi dan mencoba mengamati kehidupan pendidikan di  lingkungan persekolahan.   Ada karakter, pemberontak (tidak taat aturan), pemalas, masa bodoh, dll.,  ada pula yang menyeimbangkannya dengan prilaku yang begitu baik, sopan, disiplin, rajin, menuruti aturan dan punya kepekaan social yang begitu baik dan mangagumkan. Kalau di ibaratkan 2 warna mereka itu, mewakili hitam dan putih, melalui minagemen sekolah, melalui guru yang berkarakter baik akan mampu memadukan dua sisi yang berbeda tersebut, sehingga mereka berpadu, berkolaborasi dan berbaur menjadi suatu kombinasi yang sangat indah. Dimana diantara mereka saling mengisi kekurangan dan kelemahan serta berbagi kelebihan  pada diri dan sifat-sifat mereka.

Perbedaan warna menyadarkan kita bahwa perbedaan karakter dan sifat masing-masing berpadu menciptakan sebuah harmoni yang sangat indah, dimana didalamnya ada wiraga, wirahma dan wirasa ( keharmonisan gerak, irama, dan perasaan) jadi dalam setiap kehidupan terdapat perbedaan namun bisa di wujudkan menjadi sesuatu yang sangat indah dan harmonis manakala adanya saling mengerti dan  toleransi didalamnya.
 
Saat kita kembali mengamati dunia pendidikan sekarang-sekarang ini , maka  Hitam putihnya kebijakan pemerintah di dunia pendidikan akan terasa indah dan mudah dilaksanakan manakala terjadi padu padan yang pas sehingga semua keingina baik konsumen maupun produsen dan pemangku kebijakan akan terwujud dengan aman dan damai dalam semua bidang.

Hitam putihnya hasil belajar siswa terasa begitu bermutu   manakala di padu padakan dengan hasil belajar dari aspek moral dan keterampilan sehingga tercipta mutu pendidikan yang diharapkan oleh pemerintah dan masyarakat. Kesemuanya  diperoleh dari hasil pelaksanaan padu padan dari segala aspek.

Hitam putihnya tingkat keprofesian seorang guru akan terasa sangat baik manakala dipadu padankan dengan kemampuan kepribadian seorang guru; kesabaran, ketelatenan, keteladanan, kemampuan social seorang guru;melakukan hubungan komunikasi dengan siswa, orang tua siswa, sesama guru, atasan dan masyarakat,  kemampuan professional   yaitu dengan menguasai bidang ilmunya dan pedagogic guru yaitu kemampuan menyajikan proses pembelajaran. Keseluruhan kemampuan tersebut   saling melengkapi sehingga keharmonisan dan kualitas pendidikan pun akan menjadi luar biasa bagusnya. Tentu semuanya harus ada niat baik ( good willing) dari semua pihak baik produsen, konsumen dan pemangku kebijakan.

Pada saat melihat bentuk fisik lingkungan sekolah yang sudah bercat putih dan hitam, saat melihat pot bunga yang sudah diberi cat hitam dan putih, saat melihat umbul-umbul yang terpasang dengan warna hitam dan putih maka kesan yang dirasakan adalah  gagah, tegas, garang, agung, suci dan damai, mebuktikan bahwa sekolah  dengan  tegas namun penuh cinta dan damai mencetak generasi muda yang tangguh, dan kuat yang memiliki jiwa yang arif, bijaksana  dan penuh tanggung jawab guna membangun bangsa Indonesia tercinta ini.